Kajian Hadis Pertama dalam Kitab Arba’in KH. Hasyim Asy’ari: Meneropong Ad-Dīn an-Naṣīḥah dalam Kehidupan Sehari-hari

251 Views
Penulis: Achmad Fauzan
Publisher: Muhammad Al Hanif

Hadhratusy-Syaikh KH. Hasyim Asy‘ari (selanjutnya disebut Mbah Hasyim), pendiri Nahdlatul Ulama (NU), melihat agama sebagai panduan hidup yang tidak hanya membangun relasi vertikal dengan Allah, tetapi juga relasi horizontal dalam masyarakat.

Dalam Muqaddimah Qānūn Asāsī li Jam‘iyyah Nahdlat al-‘Ulamā’, beliau menegaskan pentingnya pertemuan, saling mengenal, dan bersatu. Semua itu merupakan pedoman hidup yang manfaatnya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Terdapat dua hadis penting yang beliau kutip untuk menekankan pentingnya kebersamaan dalam hidup.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw., bahwa “Tangan Allah bersama al-jamā‘ah” (HR. Al-Tirmiḏī, no. 2166: ṣaḥīḥ). Rasulullah juga memperingatkan bahwa setan lebih mudah menyesatkan orang yang sendirian (lihat Musnad Aḥmad, 1/114: ṣaḥīḥ). Dua hadis yang dikutip oleh Mbah Hasyim ini menegaskan mereka yang hidup bersama jama’ah akan lebih terlindungi, daripada mereka yang terpisah dari kelompoknya.

Di titik ini bisa dipahami bahwa manusia sebenarnya tidak bisa hidup sendiri. Ia pasti membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Karena itu, manusia mau tidak mau idealnya harus hidup bermasyarakat, bergaul, dan menjalin kerja sama demi mencapai kebaikan dan kebahagiaan bersama.

Hal serupa juga sangat nampak dalam kitabnya, Arba‘īna Ḥadīthan Tata‘allaqu bi-Mabādi’ Jam‘iyyah Nahḍat al-‘Ulamā’. Hadis pertama yang beliau kutip tidak lepas dari pentingnya menjaga relasi dengan Allah dan jamaah. Sabda Rasulullah saw:

١ ـ «الدين النصيحة» ثلاثا. قلنا: لِمَنْ يا رسول الله؟ قال: «لله، ولرسوله، ولأئمة المسلمين، وعامتهم». رواه مسلم

“Agama itu adalah nasihat” (diucapkan tiga kali). Para sahabat bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin (imam) kaum muslimin, dan sesama umat Muslim.”

Meski redaksi matan yang beliau tulis tidak sama persis dengan riwayat Ṣaḥīḥ Muslim (1/55)—misalnya tidak terdapat kata thalāthan, yā rasūlallāh, dan li-kitābihi—redaksi yang mendekati dapat ditemukan dalam Musnad Aḥmad (28/16947). Menariknya, baik riwayat Muslim maupun Aḥmad, keduanya berstatus ṣaḥīḥ.

Penjelasan Hadis

Dalam syarahnya, al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin al-Ḥajjāj, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis ini bukan hadis biasa. Bahkan, poros ajaran Islam berputar di sekelilingnya. Nasihat di sini bukan sekadar memberi petuah, tapi sikap tulus menginginkan kebaikan, tanpa tipu daya dan tanpa pamrih.

Nasihat kepada Allah berarti meluruskan iman dan kejujuran dalam beribadah. Nasihat kepada al-Qur’an bukan hanya membacanya, tapi memahaminya dan tidak memakainya untuk kepentingan sempit. Nasihat kepada Nabi bukan cuma mengaku cinta, tapi berusaha meneladani akhlaknya dalam hidup sehari-hari.

Hadis ini juga mengingatkan bahwa agama tidak mematikan akal sehat. Menasihati pemimpin dilakukan dengan cara yang baik—tidak memberontak, tapi juga tidak menjual nurani. Dan nasihat kepada sesama muslim adalah wujud agama yang paling nyata. Tidak menipu, tidak membuka aib, dan menginginkan kebaikan bagi orang lain sebagaimana untuk diri sendiri.

Di titik ini agama bukan soal terlihat paling benar, tapi berusaha paling jujur dalam niat dan sikap. Selama nasihat—dalam arti ketulusan dan kepedulian—masih hidup, agama masih bernyawa.

Menurut Ibnu Baththal رحمه الله nasihat fardhu kifayah, cukup dilaksanakan oleh sebagian orang sehingga gugur dari yang lain. Nasihat wajib dilakukan sesuai kemampuan, dengan catatan: jika penasihat yakin nasihatnya diterima dan ia aman dari bahaya. Namun jika ia khawatir akan mudarat, maka ia diberi kelonggaran.

Susahnya Saling Menasihati di Zaman yang Semakin Edan

Jika dibaca lebih teliti, Mbah Hasyim sebenarnya ingin menegaskan bahwa agama yang sejati adalah agama yang saling memurnikan hati, saling mendidik akhlak, dan bersama-sama memelihara keadilan sosial. Ada unsur ketersalingan di dalamnya. Dan wujud konkretnya adalah nasihat.

Namun nasihat di sini bukan sekadar kata-kata. Ia bisa menjelma sebagai ilmu, kadang hadir sebagai doa, kadang lelucon, kadang muncul sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan, dan di waktu lain justru tampak dalam keteladanan hidup yang diam-diam bekerja.

Masalahnya, orang sekarang semakin susah dinasihati—dari publik figur sampai penulisnya sendiri (saya pribadi). Kita semua, barangkali, pernah berada di fase ketika alih-alih saling menasihati, bisa tetap hidup waras di zaman yang kian edan saja sudah terasa cukup.

Jujur saja, di era yang semakin mendorong kemandirian individu—cukup lewat layar ponsel—nasihat yang tulus sering kali tak terdengar. Ia tenggelam. Sekadar lewat kuping kanan-kiri. Ironisnya, nasihat yang blak-blakan, frontal, bahkan kasar, justru lebih mudah mendapat perhatian-lebih direnungkan-lebih diterima meskipun terpaksa. Dan kita, mungkin termasuk golongan orang yang perlu dinasihati secara kasar.

Terlepas dari itu semua, dari hadis di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa nasihat tetaplah penting. Ia harus tetap hidup dalam masyarakat. Dari hadis itu pula, kita selayaknya mulai belajar lebih sadar, dan lebih memahami, bahwa kita di dunia tidak hidup sendiri, juga tidak seenaknya sendiri.

Mari mulai belajar menasihati selembut mungkin jika benar-benar perlu, dan ayok kita belajar menerima penuh lapang dada, orang yang menasihati kita meskipun keras dan pahit.

Kesendirian vs Jamaah

Dalam horizon filsafat modern, Jean-Paul Sartre pernah mengatakan “hell is other people – neraka adalah orang lain.” Ungkapan ini sering disalahpahami sekadar sebagai penolakan total terhadap kebersamaan. Padahal maksud Sartre, manusia merasa “disiksa” oleh tatapan orang lain yang mengobjektifikasi dirinya, sehingga ia kehilangan kebebasan otentik. Relasi sosial bagi Sartre rawan berubah menjadi penjara.

Di sisi lain, Mbah Hasyim memandang orang lain bukan sebagai neraka, melainkan sumber keselamatan. Hadis “ad-dīn an-naṣīḥah” menurut beliau menunjukkan bahwa agama justru hadir dalam perjumpaan, nasihat, dan kebersamaan. Manusia baru menemukan makna hidupnya dalam jamaah, bukan dalam kesendirian. Bahkan, beliau menegaskan melalui hadis lain: setan mudah menyesatkan yang sendirian, sebagaimana serigala sangat mudah memangsa kambing yang terpisah dari kawanannya.

Perbedaan ini menunjukkan kontras tajam antara eksistensialisme Sartre dan humanisme Mbah Hasyim. Jika Sartre melihat risiko keterasingan dan pengobjektifan dalam kebersamaan, Mbah Hasyim justru melihat rahmat dan keselamatan di dalamnya. Namun keduanya sama-sama menyadari bahwa manusia tidak pernah netral dalam berelasi dengan orang lain. Orang lain bisa menjadi ancaman, tetapi juga bisa menjadi penopang keselamatan.

Sartre benar bahwa orang lain bisa menjadi “neraka” bila relasi itu toksik: penuh tatapan yang menilai, menundukkan, atau mengobjektifikasi kita. Hadis lain juga benar bahwa kesendirian total membuka celah bagi “serigala”—entah setan, nafsu, atau kecenderungan destruktif—untuk memangsa kita.

Manusia tidak bisa hidup sendiri, tetapi tidak pula boleh larut begitu saja dalam kerumunan yang meniadakan dirinya.
Kuncinya adalah kualitas kebersamaan. Dalam bahasa hadis, itu disebut al-jamā‘ah: sebuah komunitas yang dibangun atas nilai iman, solidaritas, dan saling menolong.

Di sana, “orang lain” tidak lagi menjadi neraka, melainkan penopang. Tatapan bukan lagi pengurung, melainkan pengingat. Relasi sosial tidak menenggelamkan kebebasan, justru menyalakannya ke arah yang lebih luhur.

Dengan demikian, kalimat Sartre dan sabda Nabi tidak mesti diposisikan sebagai pertentangan mutlak, tetapi sebagai dua peringatan. Hati-hati dengan kesendirian yang menjerumuskan, hati-hati pula dengan kebersamaan yang mencekik. Manusia hanya bisa menemukan “surga jamaah” ketika ia hadir dalam komunitas yang sehat, yang tidak meniadakan eksistensinya, tetapi juga tidak membiarkannya dimangsa kesepian.

Fenomena kekinian memperlihatkan paradoks ini. Banyak orang hari ini lebih nyaman sendirian dengan ponselnya. Dunia digital membuat orang menarik diri dari interaksi nyata, sekaligus menghadirkan tatapan baru yang tak kalah menekan, seperti jumlah likes, komentar, atau pun views. Orang lain hadir bukan sebagai sahabat dalam naṣīḥah, melainkan sebagai angka yang mengobjektifikasi.

Jalan keluar dari keterasingan digital seharusnya bukan malah tenggelam lebih dalam dalam layar, tetapi berusaha membangun kembali kebersamaan yang tulus dan tidak toksik. Kalau bisa seimbang antara dunia maya dan nyata. Kita hidup di dunia ini tidak sendirian, jadi please, mari mulai belajar saling menasihati antar sesama.

Semoga kita bukan termasuk golongan orang yang merugi sebagaimana pesan dalam QS. Al-‘Asr. Amin, allahumma amin.

*NB: Tulisan ini pernah terbit di media Tebuireng Online dengan sedikit perbaikan dan penyempurnaan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Cuaca Hari Ini
28°C
Malang
overcast clouds
28° _ 28°
86%
1 km/h
Rab
33 °C
Kam
35 °C
Jum
29 °C
Sab
30 °C
Ming
21 °C

Latest News

Galeri & Kabar